Hayo, ngaku deh. Kalau mendengar nama R.A. Kartini, apa yang pertama kali muncul di kepala kalian? Pasti lomba pakai kebaya di sekolah, sanggul yang bikin pusing, atau lagu “Ibu Kita Kartini” yang diputar setiap bulan April, bukan?
No offense, tapi Kartini itu sebenarnya jauh lebih keren dari sekadar simbol kebaya. Bayangkan saja, dia itu remaja perempuan yang hidupnya dibatasi dari dunia luar, tapi pemikirannya bisa tembus sampai ke Eropa. Kalau Kartini hidup di zaman sekarang, mungkin dia sudah menjadi influencer atau content creator yang vokal banget di media sosial.
Penasaran sisi lain Kartini yang jarang ada di buku sejarah sekolah? Simak 5 fakta unik ini yang bakal bikin kalian berpikir: “Wah, Kartini ternyata kita banget!”
Kalian pikir Kartini itu perempuan pendiam yang cuma duduk manis di pojokan? Salah besar. Waktu kecil, Kartini itu lincah banget, tidak bisa diam, dan super aktif.

Saking aktifnya, orang-orang di sekitarnya memberikan dia julukan “Trinil” (nama burung yang lincah) dan “Kuda Liar”. Jadi, kalau kalian sering ditegur guru karena tidak bisa diam di kelas atau sering dibilang “lasak” sama orang tua, tenang saja. Kalian punya kemiripan sama Ibu Kartini. Energinya itu dipakai buat hal positif, yaitu rasa ingin tahu yang tinggi banget.
Siapa di sini yang lagi diet atau mencoba jadi vegetarian? Ternyata, Kartini sudah duluan melakukan ini lebih dari 100 tahun yang lalu.

Kartini memilih jadi vegetarian (tidak makan daging) bukan cuma buat gaya-gayaan, tapi karena alasan prinsip. Dia merasa kasihan sama hewan dan menganggap menjadi vegetarian itu seperti doa tanpa kata-kata kepada Tuhan. Prinsipnya benar-benar mirip seperti anak muda zaman sekarang yang peduli banget sama isu lingkungan dan kesejahteraan hewan.
Kalau sekarang kita suka mencari resep viral di TikTok, Kartini dulu hobi banget eksperimen di dapur. Dia jago masak makanan Eropa dan Jawa.

Kerennya lagi, dia menulis resep-resepnya itu dalam aksara Jawa dan Bahasa Belanda supaya bisa dibaca sama teman-temannya di luar negeri. Salah satu menu andalannya adalah Ayam Besengek. Bisa dibilang, Kartini ini food vlogger versi zaman dulu yang suka berbagi resep ke teman-teman penanya.
Kalian pernah merasa kesepian, dikekang orang tua, terus curhat panjang lebar di Close Friend Instagram atau bikin thread di Twitter/X? Nah, Kartini juga begitu.

Bedanya, karena dulu belum ada internet, Kartini “curhat” lewat surat ke teman-teman penanya di Belanda, seperti Rosa Abendanon dan Stella Zeehandelaar. Isi curhatannya bermacam-macam. Mulai dari kekesalannya tidak boleh sekolah, mimpinya buat perempuan Indonesia, sampai membicarakan musik dan buku. Surat-surat inilah yang nantinya dikumpulkan jadi buku Habis Gelap Terbitlah Terang. Jadi, buku itu sebenarnya adalah kumpulan “riwayat chat” Kartini yang penuh emosi dan visi.
Selain kutu buku, Kartini juga punya jiwa seni yang tinggi alias artsy. Dia suka banget sama seni membatik. Batik karya Kartini bahkan pernah dikirim ke Belanda dan dikagumi di sana.

Soal selera musik, Kartini itu “anak indie” pada zamannya. Dia suka sekali mendengarkan Gamelan, terutama lagu yang judulnya Ginonjing. Buat dia, musik gamelan itu bisa bikin hati adem dan menenangkan pikiran. Tapi di sisi lain, dia juga terbuka sama musik Barat seperti piano. Daftar lagu favorit Kartini sangat lintas genre.
Kesimpulan
R.A. Kartini itu bukan cuma patung atau foto pajangan di dinding kelas. Dia adalah remaja yang punya mimpi, suka overthinking, pernah merasa terkekang, tapi tidak menyerah sama keadaan.
Jadi, buat kalian anak SMP yang lagi merasa buntu, susah izin main, atau punya mimpi yang dibilang “ketinggian” sama orang lain, ingat saja sama Kartini. Kalau dia bisa bikin perubahan besar cuma dari dalam kamar pingitan, kalian juga pasti bisa bikin dampak keren dengan cara kalian sendiri.
Kartini sudah berjuang mati-matian membukakan “gerbang” biar kita semua—perempuan maupun laki-laki—bisa sekolah, bebas berkreasi, dan punya mimpi tinggi. Dulu, dia berjuang pakai pena dan kertas di kamar yang sempit. Sekarang, dengan segala fasilitas dan gadget canggih yang kalian punya, giliran kalian yang ambil peran!
Jangan cuma jago repost kata-kata mutiara Kartini di status WA saja, yuk lakukan 3 hal simpel ini sebagai tanda terima kasih kita ke Ibu Kartini:
Ingat: Sejarah bukan cuma buat dihafal tanggalnya, tapi buat ditiru semangatnya. Buat Kartini bangga sama kalian, Gen Z!
Kartini
[Verse 1]
Dinding pingit bukan akhir segalanya!
Di balik jendela, matanya bicara pada dunia
Tinta hitam menari di atas kertas putih
Melawan gelap, meski raga terbelenggu pedih
(Hey! Hey! Hey!)
[Pre-Chorus]
Eropa mendengar lewat surat-suratnya
Tentang nurani yang ingin merdeka
Bukan sekedar sanggul dan kebaya
Ini soal harga diri yang setara!
[Chorus]
Ingatkah kamu siapa yang membuka jalan?
Ingatkah kamu siapa yang lawan penindasan?
Kartini! Kartini! Habis gelap terbitlah terang!
Kartini! Kartini! Mengapa api itu
…mulai padam..terlupakan
(Woah-oh-oh!)
(Woah-oh-oh!)
(Hey!) (Hey!) (Hey!)
[Verse 2]
Jepara menjadi saksi bisu pergerakan
Pena lebih tajam dari pedang yang dihunuskan
Dia tak angkat senjata di medan perang
Tapi pikirannya membuat tirani jadi guncang!
(Fight! Fight! Fight!)
[Pre-Chorus]
Eropa mendengar lewat surat-suratnya
Tentang nurani yang ingin merdeka
Bukan sekedar sanggul dan kebaya
Ini soal harga diri yang setara!
[Chorus]
Ingatkah kamu siapa yang membuka jalan?
Ingatkah kamu siapa yang lawan penindasan?
Kartini! Kartini! Habis gelap terbitlah terang!
Kartini! Kartini! Mengapa api itu
…mulai padam..terlupakan
(Woah-oh-oh!)
(Woah-oh-oh!)
[Bridge / Spoken]
Kenapa kalian diam?
Kenapa kalian lupa?
(Tapi sejarah menolak tunduk!)
Siapkan suaramu!
Kembalikan Sejarah!
[Final Chorus]
Ingatkah kamu siapa yang membuka jalan?
Ingatkah kamu siapa yang lawan penindasan?
Kartini! Kartini! Habis gelap terbitlah terang!
Kartini! Kartini! Mengapa api itu
…mulai padam..terlupakan
(JANGAN LUPA SEJARAH!)
(TERBITLAH TERANG!)
[Outro]
Habis gelap…
terbitlah…
TERANG!
Tinggalkan Komentar