Hi, Sobat Piwan! π
Lagi asyik main bola atau baru mau berangkat ekskul, eh tiba-tiba… byuurrr! Hujan turun deras banget. Pasti pernah dong ngalamin momen zonk kayak gini? Atau malah kalian tipe anak indie yang suka galau sambil mandangin hujan di jendela kelas? π§οΈβ
Hujan itu kelihatannya simpel, cuma air jatuh dari langit. Tapi, proses di baliknya itu ibarat perjalanan epik yang nggak ada habisnya, lho! Di pelajaran IPA, kita mengenalnya dengan nama keren: Siklus Hidrologi.
Penasaran gimana caranya air laut yang asin bisa berubah jadi air tawar yang jatuh di genteng rumahmu? Yuk, kita bedah prosesnya berdasarkan ilmu sains yang valid (sumber: BMKG & USGS), tapi versi gampang dicerna!

Semuanya dimulai dari Matahari. Bayangin Matahari itu kayak kompor raksasa yang lagi manasin air di panci (laut, danau, sungai).
Karena panas, air berubah wujud dari cair menjadi gas (uap air). Nah, uap ini nggak kelihatan mata, dia terbang melayang naik ke atas atmosfer. Proses inilah yang disebut Evaporasi.

Semakin tinggi uap air itu naik, suhu udara di atas sana semakin dingin (ingat kan, kalau naik gunung makin dingin?).
Karena kedinginan, uap air tadi berubah wujud lagi dari gas menjadi partikel-partikel es atau butiran air super kecil. Partikel-partikel ini kemudian ngumpul bareng-bareng dan membentuk Awan. Proses perubahan uap jadi awan inilah yang disebut Kondensasi.
Bayangin Gini: Kayak kalau kamu nuang air es ke gelas, terus dinding luar gelasnya jadi basah/berembun. Nah, awan itu adalah embun raksasa di langit!
Awan yang tadi “nongkrong” di langit lama-lama makin padat. Angin membawa awan-awan kecil bergabung jadi awan besar yang gelap (mendung).
Ketika butiran air di dalam awan sudah terlalu banyak dan berat, awan udah nggak sanggup lagi menahannya melawan gravitasi. Akhirnya… tumpah deh! Butiran-butiran air itu jatuh ke Bumi. Inilah yang kita sebut HUJAN, atau bahasa ilmiahnya Presipitasi.
Air hujan yang sampai ke tanah nggak diam aja. Ada dua tim di sini:
Setelah sampai di laut, airnya bakal dipanasin Matahari lagi, dan siklusnya berulang lagi dari nomor 1. Never ending story!

Biar kita sadar, Sobat Piwan. Air di Bumi itu jumlahnya tetap segitu-gitu aja, cuma bentuknya yang berubah-ubah. Air hujan yang turun hari ini, bisa jadi adalah air yang sama yang pernah diminum dinosaurus jutaan tahun lalu! π¦π€―
Makanya, penting banget buat kita menjaga daerah resapan air (biar Infiltrasi lancar) dan nggak buang sampah di sungai (biar Runoff nggak bikin banjir).
Yuk, mulai sekarang kalau hujan turun, jangan cuma dibilang “bikin becek”, tapi ingatlah betapa canggihnya alam bekerja!
Stay curious and stay dry, Guys! β
Sumber Referensi Resmi:
Tinggalkan Komentar