Pernah nggak sih kita menemukan siswa yang nilai rapornya bagus, tapi ketika diminta memahami bacaan panjang atau menyelesaikan soal logika sederhana masih bingung?
Fenomena seperti ini ternyata bukan sekadar perasaan guru di kelas. Di berbagai daerah, mulai muncul temuan bahwa ada jarak antara angka di rapor dengan kemampuan nyata siswa dalam literasi dan numerasi.
Salah satu contoh datang dari temuan Dinas Pendidikan yang menunjukkan bahwa banyak siswa dengan nilai rapor tinggi ternyata belum mampu mencapai hasil optimal saat mengikuti Tes Kemampuan Akademik (TKA). Artinya, nilai bagus belum tentu selalu mencerminkan penguasaan konsep yang kuat.
Hal ini juga sejalan dengan hasil studi PISA yang masih menunjukkan bahwa kemampuan membaca dan matematika sebagian besar siswa Indonesia masih perlu diperkuat. Di sisi lain, nilai rapor di sekolah sering terlihat cukup tinggi. Nah, di sinilah muncul pertanyaan penting:
“Apakah siswa benar-benar sudah memahami pelajaran, atau baru sekadar mampu menyelesaikan tugas dan mengejar angka?”
Ketika Nilai Jadi Tujuan Akhir
Tidak bisa dimungkiri, budaya pendidikan kita kadang masih terlalu fokus pada angka. Nilai tinggi dianggap sukses, sedangkan nilai rendah dianggap gagal. Akibatnya, proses belajar sering berubah menjadi sekadar “yang penting tuntas”.
Padahal belajar bukan cuma soal naik kelas atau lulus ujian. Belajar seharusnya membuat siswa:
- mampu berpikir kritis,
- berani mencoba,
- bisa memecahkan masalah,
- dan memahami kehidupan nyata.
Kadang siswa hafal rumus, tapi bingung saat rumus itu dipakai dalam konteks sehari-hari. Kadang siswa bisa menjawab soal pilihan ganda, tetapi kesulitan menjelaskan alasan jawabannya.
Ini bukan salah siswa semata. Sistem pembelajaran kita memang sedang berproses menuju perubahan yang lebih baik.
Guru Juga Punya Tantangan Besar
Di balik layar, guru sebenarnya menghadapi banyak tantangan:
- administrasi yang menumpuk,
- target kurikulum,
- tekanan ketuntasan,
- sampai tuntutan agar nilai siswa tetap terlihat baik.
Dalam kondisi seperti itu, proses penilaian terkadang belum bisa sepenuhnya menggambarkan kemampuan asli siswa secara mendalam.
Karena itu, penting untuk membangun budaya belajar yang lebih sehat. Bukan budaya yang hanya mengejar angka, tetapi budaya yang menghargai proses, usaha, rasa ingin tahu, dan keberanian untuk belajar dari kesalahan.
Saatnya Pembelajaran Lebih Bermakna
Kabar baiknya, banyak sekolah sekarang mulai bergerak ke arah pembelajaran yang lebih bermakna dan menyenangkan.
Pembelajaran tidak lagi hanya berpusat pada hafalan, tetapi mulai mengajak siswa:
- berdiskusi,
- menganalisis,
- membuat proyek,
- bekerja sama,
- dan memecahkan masalah nyata.
Literasi dan numerasi juga bukan hanya urusan guru Bahasa Indonesia atau Matematika. Semua mata pelajaran punya peran untuk melatih cara berpikir siswa.
Misalnya:
- IPA melatih analisis data,
- IPS melatih membaca informasi,
- Bahasa Inggris melatih pemahaman konteks,
- bahkan Seni dan Prakarya melatih kreativitas serta problem solving.
Orang Tua Juga Punya Peran Penting
Sekolah tentu tidak bisa berjalan sendirian. Di balik perkembangan siswa, ada dukungan besar dari keluarga, terutama orang tua di rumah.
Kadang tanpa sadar, kita terlalu fokus pada pertanyaan:
“Nilainya berapa?”
Padahal anak juga perlu didampingi dalam proses belajarnya. Pertanyaan sederhana seperti:
- “Hari ini belajar apa?”
- “Bagian mana yang masih sulit?”
- “Apa yang paling menarik di sekolah tadi?”
bisa membuat anak merasa dihargai, didengar, dan lebih nyaman untuk belajar.
Dukungan kecil seperti membiasakan membaca di rumah, mengurangi distraksi gadget berlebihan, memberi apresiasi pada usaha anak, serta membangun komunikasi yang hangat dengan sekolah bisa memberikan dampak besar terhadap perkembangan literasi dan karakter belajar siswa.
Ketika sekolah dan orang tua bisa berjalan searah, pendidikan akan terasa lebih bermakna. Anak bukan hanya belajar mengejar nilai, tetapi juga belajar menjadi pribadi yang mandiri, tangguh, dan terus berkembang.
Pendidikan Bukan Sekadar Angka
Pada akhirnya, rapor memang penting. Nilai juga tetap diperlukan sebagai bagian dari evaluasi. Namun yang jauh lebih penting adalah bagaimana siswa benar-benar bertumbuh menjadi pribadi yang:
- mampu berpikir,
- mampu memahami,
- mampu beradaptasi,
- dan siap menghadapi tantangan masa depan.
Karena pendidikan sejatinya bukan perlombaan mencari angka tertinggi, melainkan proses membentuk manusia yang terus mau belajar.
References
Aisyah, Helviana, & Ramdan, A. (2025). Antara Kertas Dan Realita: Penilaian Autentik Dalam Kurikulum Merdeka. Jurnal Inovasi Pedagogi & Teknologi (JIPTek), 3(2), 56–65.
Bassar, R. S. (2026, Juni 03). Temuan Dinas Pendidikan! Nilai Rapor Tak Selaras dengan Kemampuan Akademik Siswa, Cuma Bagus di Angka. Jambi Independent.
Mubarak, M. D. (2023). Korelasi Antara Kemampuan Numerasi Dalam Menyelesaikan Soal AKM Dengan Hasil Belajar Matematika Siswa SMP. Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Matematika, Universitas Mulawarman, 3, 232–239.
Nafi’, M. N. I., Maryam, T. E., & Humaidi, A. (2025). Problematika Implementasi Standar Kelulusan PAI Di Sekolah Menengah Pertama: Studi Pustaka. Edukatif: Jurnal Ilmu Pendidikan, 7(6), 1892–1901. https://doi.org/10.31004/edukatif.v7i6.8838
Pusat Layanan Pembiayaan Pendidikan. (2025, April 30). Mendikdasmen Ungkap Capaian dan Tantangan Dalam Pendidikan. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia.
Putro, J. (2025, Desember 29). Akademisi Sebut Nilai Matematika Rendah Akibat Kurikulum Mismatch. RRI.co.id.
Putro, P. A., Priatna, A., & Ridwan, A. F. (2026). Perangkap KKM Pada Pembelajaran IPA-Fisika: Analisis Sosiologis Tentang Budaya Target Rendah Pada Siswa Dan Guru Di Sekolah Menengah. AL-IRSYAD Journal of Physics Education, 5(1), 86–98.







Komentar