Assalamualaikum wr. wb. Halo semuanya, Ayah Bunda, Rekan-rekan guru, dan seluruh Sobat Piwan! Awal tahun ajaran baru ini banyak sekali kesibukan terjadi. Mulai dari menyekolahkan anak ke sekolah baru, seragam sekolah baru, beli buku-buku baru, bahkan guru pun ikutan bertanya-tanya. Apakah kurikulum ikutan baru?
Nah, ternyata Kemendikbud merilis satu kebijakan baru yakni: Permendikdasmen No. 13 Tahun 2025. Kalem aja semuanya! Ini sih bukan berarti ganti kurikulum, kok! Kenapa? Kurikulum baru itu berarti siap-siap aja bikin pusing kita semua. Apalagi bagi guru, pusingnya mungkin tujuh keliling.
Apa sih sebenarnya arah kebijakan baru ini? Sebenarnya sih lebih ke penyegaran dan usaha untuk memperkuat proses yang sudah berjalan. Apa itu? Tambahan rasa dan perlakuan Pembelajaran Mendalam, lebih populernya Deep Learning. Cuma ini versi Indonesia ya? So, ojo dibanding-bandingke dengan negara lain. Beda lah!
Tujuannya juga sederhana kok, agar proses belajar mengajar atau suasana pembelajaran bisa berlangsung meningkat dengan lebih bermutu, lebih bisa penyesuaian (sesuai kebutuhan sekolah masing-masing), dan tentu saja tanpa drama-drama agar tetap asyik dijalankan.
Prinsip Pembelajaran Mendalam (Deep Learning)
Ini prinsip dasar pendidikan kita dan mesti dijaga jangan sampai lupa. Seharusnya proses yang terjadi di sekolah-sekolah menjadi sebuah momen yang menyenangkan baik bagi guru maupun siswanya. So, dalam pelaksanaannya wajib berprinsip pada tiga hal:
- Ber-Kesadaran: Gini loh pemirsa, dalam tahapan ini Guru membantu siswa untuk paham akan potensi/kekuatan diri mereka sendiri serta nilai-nilai kepedulian sosialnya terhadap lingkungan sekitar.
- Bermakna: Nah seharusnya pelajaran keilmuan yang dipelajari di sekolah mestinya relate dalam kehidupan sehari-hari mereka dan bisa menjadi dasar keterampilan untuk hidup, bukan cuma teori atau sebatas konsep saja. Good lah!
- Menggembirakan: Bagian ini nih yang paling sulit sebenarnya. Dari sisi guru harus pandai-pandai membuat suasana belajar menjadi kegiatan yang menyenangkan, menantang, dan mengajak berpikir kritis. Sementara kadang kendala di kelas tuh, siswa sudah lelah, capek, or maybe bosan. Peran guru nih, tahapan ini berubah menjadi seorang sutradara yang handal meracik agar suasana belajar tetap menggembirakan, bukan malahan jadi tekanan atau bikin stres.
Lalu bagaimana agar tiga hal prinsip tersebut bisa tercapai sebagai sebuah tujuan? Tentu ada pondasi dasar arah pelaksanaan. Yakni: Olah Pikir (Biar siswa cerdas logikanya), Olah Hati (Agar siswa peka hati nuraninya), Olah Rasa (Agar tumbuh kreativitas dan memiliki empati terhadap sesama), serta Olah Raga (Agar tentu saja sehat bugar fisiknya, enggak lemes saat belajar, atau malah menguap sepanjang hari).
Koding dan AI: Mata Pelajaran Pilihan Jaman Now
Nah, ternyata ada tambahan dua mata pelajaran baru di sekolah mulai Tahun Ajaran 2025/2026 ini. Apa itu guys? Koding dan juga AI (Kecerdasan Artifisial), bolehkah saya gampangnya pakai istilah Akal Imitasi (tiruan)?
Apakah ini akan membebani siswa serta sekolah ke depannya? Sebenarnya sih tidak juga ya. Kenapa? Catat ya, Koding dan AI ini sifatnya adalah Mata Pelajaran Pilihan, bukan wajib. Munculnya dua mata pelajaran pilihan baru itu sebagai jawaban dari tuntutan jaman now, di mana siswa sudah sangat terpapar menjadi korban gadget.
Masifnya pengaruh gadget jika tidak diimbangi dengan etika pemanfaatannya malah makin merusak. Oleh karena itu, wajar ada kekhawatiran orang tua tentang pertanyaan seperti ini: “Kan, anak zaman sekarang aja udah kebanyakan ‘tafakur’ main gadget, kok malah disuruh belajar Koding dan AI di sekolah?”
Justru dari sinilah pentingnya kesadaran etika pemanfaatan gadget dijadikan mapel. Kita semua tau lah! Di tengah dahsyatnya gempuran TikTok, gim online, IG, atau lainnya, membuat perilaku tidak bisa meninggalkan layar gadget terjadi hampir setiap harinya. Perilaku seperti ini, pada akhirnya akan menjadikan anak-anak kita cuma mentok jadi “konsumen” pasif yang gampang kecanduan konten-konten toksin. Nah, melalui pembelajaran lewat Koding dan AI, mereka dibelokkan pelan-pelan dan diberi arah agar beralih menjadi kreator dan pemecah masalah (problem solver), bahkan bisa saja ke depannya mereka menjadi pengembang aplikasi.
Pembelajaran ini diharapkan akan membantu kemampuan siswa agar memiliki cara berpikir secara logis, berurutan dan terstruktur.
Contoh Praktiknya: Siswa diajak mengenali pola tampilan visual dengan latihan menyusun bentuk-bentuk menjadi terstruktur, melengkapi deret urut angka bersyarat, atau membuat semacam algoritma pada penyelesaian masalah sederhana sehari-hari. Hal ini nih, persis kayak siswa menulis cara memasak mie instan: harus urut dari merebus air, memasukkan mie, meniriskan, sampai mencampur bumbu-bumbunya. Kalau urutannya dibalik, mienya bisa gagal matang dan bisa saja rasanya malah tidak karuan. Nah, latihan merangkai “balok-balok logika” dasar inilah yang bikin otak anak terbiasa berpikir runut, rapi, dan bisa memberikan alternatif pemecahan masalah di masa depan.
“Satu hal yang perlu diluruskan nih Ayah Bunda. Belajar Koding dan AI di sini bukan berarti anak-anak kita otomatis digiring masuk lab, disuruh melototin layar laptop, lalu dicekoki bahasa pemrograman rumit macam HTML, CSS, JavaScript, Python, PHP, dan kawan-kawannya. Jangan parno duluan! Esensi utamanya bukan di situ, tapi lebih menekankan pada peningkatan pola pikir yang logis, sistematis, dan analitik. Intinya sih, anak-anak diajak paham alur dan nalar berpikirnya, bukan ujug-ujug disuruh jadi programmer instan atau ahli cyber security dalam semalam.”
Harapan Lulusan “Paket Komplit” (8 Dimensi Profil Lulusan)
BTW, bicara soal target akhirnya, apa sih sebenarnya tujuan akhir konsep belajar semuanya ini? Ternyata para pemirsa sekalian, sekolah saat ini nggak melulu cuma dituntut buat mencetak anak yang jago hafalan atau dapet nilai seratus di kertas ujian doang. Ada semacam “paket komplit” yang jadi sasaran dan target utamanya, namanya terkenal dengan istilah keren 8 Dimensi Profil Lulusan.
Nah ibaratnya, profil lulusan ini menjadi sebuah bekal wajib buat anak-anak kita menatap masa depan agar mampu bertahan hidup. Kalau begitu, apa aja sih isinya?
- Keimanan dan Ketakwaan: Ini pondasi utama, akhlak harus tetap nomor wahid! Percuma saja pintar kalau akhlaknya ambyar.
- Kewargaan: Punya rasa peduli sama lingkungan sekitar mereka dan tentu cinta sejati ke tanah air (NKRI Harga mati pokoknya).
- Penalaran Kritis: Biar otaknya bisa berpikir dengan dalam (sedalam samudra) dan nggak gampang kena tipu berita hoaks, konten toksin, info bodong, atau parahnya lagi judol malahan.
- Kreativitas: Selalu punya ide segar dan nggak gampang mati gaya. Enggak sekadar jadi pengekor macam bebek, tapi kreator dengan ide-ide mencerahkan sesama.
- Kolaborasi: Jago kerja sama bareng tim, bukan tipe yang cuma “jago kandang” sendirian atau hebat hanya untuk dirinya sendiri, tapi enggak banyak manfaat buat lingkungannya.
- Kemandirian: Bisa diandalkan, punya daya juang tinggi, nggak melulu bergantung sama orang tua atau temen.
- Kesehatan: Fisik bugar, mental juga kuat. (Percuma pintar kalau dikit-dikit gampang nge-drop, kan?)
- Komunikasi: Luwes menyampaikan ide dan gagasan, nggak cuma diam di pojokan kelas, atau demam panggung, gagap saat presentasi depan kelas, atau malah lemes kalau ditanya permasalahan pembelajaran di kelas.
Kebayang kan, Ayah Bunda? Lewat kurikulum ini, anak-anak kita pelan-pelan dibentuk jadi generasi yang badannya sehat, imannya kuat, otaknya kritis, dan luwes bergaul. Bener-bener paket idaman banget lah pokoknya!
Kokurikuler Makin Seru Lewat Lintas Ilmu (Plus 7 Kebiasaan Hebat)
Agar 8 karakter impian dan idaman tadi nggak cuma jadi pajangan, wacana di buku teori, atau malah konsep pelatihan doang, maka kegiatan kokurikuler untuk pendalaman materinya dari sekolah juga bakalan dibuat makin meriah dan mengasyikkan. What next?
Belajarnya sekarang didorong sekuat-kuatnya untuk bisa kolaboratif atau bekerjasama lintas disiplin mata pelajaran. Artinya, siswa nantinya saat melakukan pekerjaan satu project seru bisa menggunakan pengetahuan dan ilmu gabungan dari beberapa mata pelajaran lainnya sekaligus. Tidak melulu belajar mapel per-mapel sendiri-sendiri, tapi nantinya akan digabung.
Contoh konkretnya gini deh: Misal, siswa kokurikulernya tentang wawasan lingkungan hidup. Maka kelompok project tersebut bisa belajar dari IPA (menanam pohon atau paham manfaat pohon), Bahasa Inggris (buat poster berbahasa Inggris), Bahasa Indonesia (membuat puisi atau pantun), Agama dan Budi Pekerti (tentang jangan merusak alam), dan Prakarya (membuat miniatur rumah berwawasan lingkungan). Semuanya tergantung kreativitas sekolah dan kompleksitas yang disesuaikan.
Memang semuanya itu terasa berat sih, tapi demi terwujudnya masa depan yang cerah (bukan generasi cemas bro), kita semua harus berjibaku bersama.
Nah, ada tambahan lagi rupanya. Apa itu? Penerapan Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat. Intinya sih, sekolah ingin dan serius memberdayakan anak dengan life-skill (keterampilan hidup) biar mereka makin tangguh menghadapi tantangan besar di dunia nyata nantinya, bukan membiarkan saja tumbuhnya generasi halu dan mager doang tanpa aksi.
Ekskul Pramuka: Masih Wajib Nggak Sih?
Pramuka tetap wajib. Dalam kebijakan aturan tersebut jelas disebutkan bahwa Pramuka harus menjadi ekskul utama. Simak baik-baik nih bunyinya: “Tiap satuan pendidikan tetap wajib menyediakan ekstrakurikuler Pramuka ataupun jenis kepanduan lainnya.”
So, tradisi tepuk Pramuka, kegiatan penjelajahan dengan jerit malamnya, nyanyi bareng teman di depan api unggun, serta latihan mandiri lewat perkemahan tetap jadi momen sejarah epik yang tidak mungkin terpisahkan dari masa-masa sekolah anak-anak kita.
Apa Hasil Positif Jika Kurikulum Ini Sukses?
Prinsip pengembangan baru kurikulum ini memang sangat berfokus pada muatan penting (esensi) serta fleksibel menyesuaikan dengan konteks anak-anak kita.
Coba saja kita bayangkan. Andaikata terjadi kerjasama yang saling mendukung antara Guru yang inovatif, Siswa yang semangat, dan Orang Tua yang mendukung penuh pelaksanaan ini untuk berlangsung secara konsisten, maka bisa dipastikan, di masa depan, lulusan atau alumni sekolah kita tidak bakalan mudah “gagap teknologi atau gaptek” sehingga bisa tersingkir oleh perubahan perkembangan teknologi global.
Mereka bakal tumbuh dan berkembang menjadi generasi yang lincah, cerdas beradaptasi, punya kemampuan nalar kritis yang tajam buat nyaring hoaks, fake, konten toksin, atau semacamnya. Sehingga pada akhirnya capaian kompetensi ini akan mengakar kuat pada karakter dan akhlak mulia. Pada akhirnya mereka-mereka siap bersaing di era masif digital!
Yuk, Ayah dan Bunda Sekalian, Kita Dukung Bareng-Bareng!
Perubahan arah pendidikan yang se-keren dan semulia ini nggak bakal bisa mendarat mulus bak pesawat kalau hanya mengandalkan guru-guru saja di kelas pembelajaran. Ayah dan Bunda sebenarnya berperan menjadi kemudi utamanya di rumah masing-masing!
Oleh karena itu, sudah saatnya kita luangkan sedikit waktu untuk ngobrol santai dengan anak-anak kita tentang project apa yang sedang mereka kerjakan. Buatlah ini menjadi sebuah momen family-time utama saat berkumpul bareng, dampingi mereka dan arahkan mereka saat menjelajahi gadget mereka, serta jangan terputus untuk terus jalin komunikasi yang kondusif dengan pihak sekolah, bisa ke gurunya atau ke wali kelasnya.
Mari kita sama-sama bergandengan tangan mewujudkan pendidikan bermutu yang berproses menggembirakan, menyadarkan, dan bermakna untuk masa depan anak-anak kita! Semangat Yok!







Komentar